oleh : Aditya Pratama (staff departemen edukasi)

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, memberikan pengaruh signifikan disetiap lini kehidupan masyarakat baik pendidikan, ekonomi, maupun sosial budaya. Terlebih dalam pemenuhan kebutuhan umat, peran teknologi tidak terlepas di dalamnya, mulai dari pemenuhan kebutuhan ekonomi berskala kecil dari rumah tangga hingga skala besar yaitu pengelolaan sebuah negara. Seiring dengan kemajuan zaman, tranformasi ekonomi dari segi keuangan mulai berevolusi dan menjamur ke arah pemanfaatan financial technology (FinTech). Pada prinsipnya penggunaan fintech memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi baik investasi, penjualan, pembelian, peminjaman, dan lainya secara lebih efisien.

Indonesia, sebagai negara dengan pengguna internet terbesar ke-5 di dunia (Hootsuite: Indonesian Digital Report 2019), tentunya menjadi ladang yang potensial bagi berkembangbiaknya fintech di dalam negeri. Tercatat, menurut data OJK tahun 2019 lalu, perkembangan startup fintech mencapai 127 startup dan 9 fintech syariah terdaftar. Meskipun pertumbuhan fintech syariah tahun lalu belum sebanyak fintech konvensional, namun diperkirakan perkembanganya akan terus signifikan, terlebih penduduk Indonesia bermayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, tentu hal ini merupakan potensi besar untuk mengembangkan dan mengolaborasikan pemanfaatan fintech berbasis syariah. Potensi tersebut tentunya harus diarahkan untuk membangun perekonomian umat, yaitu pemenuhan kebutuhan ekonomi melalui sistem pengelolaan dan pengalokasian Ziswaf (zakat, infaq, shodaqah, dan wakaf) di Indonesia.

Ziswaf merupakan instrumen keuangan sosial Islam yang berperan penting dalam menggerakan dan mengembangkan perekonomian umat. Selain itu Ziswaf juga memiliki kontribusi penting dalam pemenuhan kebutuhan  ekonomi umat, terlebih bagi masyarakat kurang mampu. “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS. 51. Adz Dzariyat:19). Peran tersebut sesuai dengan UUD 1945 pasal 34 ayat 1 yang berbunyi: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Pentingnya Ziswaf yang di dalamnya berkaitan dengan zakat, infaq, shodaqah, serta wakaf sejatinya adalah bentuk sistem ekonomi syariah yang pengimplementasianya sudah tentu berpihak pada rakyat. Lebih dari itu, komponen di dalamnya  dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan keadilan  masyarakat dari agama manapun.

Jika dilihat, pertumbuhan Ziswaf di Indonesia terlebih zakat dan wakaf mengalami pertumbuhan yang fluktuatif tiap tahunya. Tercatat berdasarkan statistik zakat nasional tahun 2018 pertumbuhan pengumpulan ZIS (zakat, infak, dan sedekah) kurun waktu 2002-2018 mencapai rerata 34,82 persen, dengan nominal mencapai Rp 8,1 triliun yang sebagian besarnya dihimpun dari zakat penghasilan 40,68 persen. Bila dibandingkan dengan potensi zakat yang ditargetkan Puskas BAZNAS sebesar Rp 233,8 triliun, tentu realisasi pengumpulanya masih sangat kecil sekitar 3,4 persen. Tingginya jarak realisasi dengan potensi tersebut disebabkan karena kepemilikan harta yang ada di Indonesia masih sangat timpang dan belum merata dimiliki oleh  umat. Selain itu, data BWI (Badan Wakaf Indonesia) menyebutkan jika potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp 2.000 triliun dengan luas tanah wakaf mencapai 420.000 hektare, sementara dari segi keuangan potensi wakaf mencapai sekitar Rp 188 triliun per tahun, namun potensi tersebut baru terealisasi sekitar Rp 400 miliar. Jika dihitung dari segi aset, wakaf tanah sebanyak 337 bidang masih belum bersertifikat dan 168 bidang tanah sudah bersertifikat.

Bersumber dari (katadata.co.id), mengutip akun instagram resmi @jokowi, menuturkan “Artinya, potensi pertumbuhan dan penyaluran zakat di negara kita masih sangat besar. Saya berharap, zakat akan terintegrasi secara digital dengan sistem yang lebih baik.” Kata Presiden Jokowi. Prinsip integrasi tersebut sejatinya dapat direalisakan dengan potensi hadirnya fintech di dalam negeri. Hal tersebut tentu mendorong inklusi bagi masyarakat untuk menunaikan ibadah, terlebih dalam bertransaksi mengenai Ziswaf.

Perkembangan yang kian pesat, memberikan perubahan dari segi pengelolaan dan pengalokasian Ziswaf, baik dari segi kemudahan dan keamanan pengelolaan, hingga keefektifan pengalokasian Ziswaf. Oleh karenanya, hadirnya fintech terlebih fintech syariah merupakan bentuk transformasi hijrah pemberdayaan Ziswaf dalam menghadapi kemajuan zaman. Selain itu peran fintech syariah menjadi sangat strategis bagi perkembangan Ziswaf, sebab pada platform ini memungkinkan  untuk mempertemukan golongan yang memiliki kemampuan finansial dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan finansial yang baik. Dalam implementasinya fintech syariah memiliki potensi untuk menerapkan konsep social crowdfunding dari segi pengelolaan dan pengalokasian Ziswaf. Konsep social crowdfunding adalah sebuah sistem yang memungkinkan untuk menghimpun dana secara kolektif dari berbagai sumber yang memiliki kemampuan finansial dan dialokasikan kepada sumber yang kurang mampu dalam segi finansial. Dalam praktek lainya, konsep ini dapat berperan untuk tetap menyokong pembiayaan industri.

Dengan sebuah sistem yang terdigitalisasi dan sesuai dengan prinsip syariah, tentunya memerlukan tata cara yang akuntabel dan dapat terverifikasi secara legal. Kemudian, dengan jangkauan yang sangat luas dari pemanfaatan konsep social crowdfunding berbasis fintech syariah, dapat dikerahkan untuk penggalangan dana sosial melalui peran Ziswaf  di dalamnya sesuai dengan kebutuhan. Sehingga pengalokasian Ziswaf yang sebelumnya terbatas dalam area tertentu, kini setiap pemberi, penyalur, dan penerima Ziswaf dapat berkolaborasi dengan jangkauan dan cakupan yang lebih besar, yang memungkinkan pengalokasian Ziswaf dapat dilakukan secara efektif dalam memberikan pemerataan pemenuhan kebutuhan ekonomi umat.

Diharapkan, semakin berkembang pesatnya kemajuan teknologi berbasis keuangan seperti fintech dapat menunjang kemudahan akses bagi masyarakat melalui pemberdayaan Ziswaf di dalamnya. Sehingga, pemenuhan kebutuhan ekonomi umat dapat merata dan menumbuh kembangkan perekonomian dalam negeri.

*****

Daftar Pustaka

KOMPAS.com. 2019. Potensi Besar, Wakaf Produktif Belum Tersosialisasi Dengan Baik. www.kompas.com, diakses pada tanggal 06 Juni 2020 (13.00).

We are Social. 2019. Hootsuite: Indonesian Digital Report 2019. www.wearesocial.com, diakses pada tanggal 07 Juni 2020 (07.00).

Katadata.co.id. 2019. Potensi Ratusan Triliun, Pengumpulan Zakat Digital Makin Gencar. www.katadata.co.id, diakses pada tanggal 07 Juni 2020 (19.15).

Republika.co.id. 2018. Perkembangan Lembaga Zakat di Indonesia Kian Signifikan. www.republika.co.id, diakses pada tanggal 08 Juni 2020 (05.45).

Otoritas Jasa Keuangan. 2019. Penyelenggara Fintech Terdaftar dan Berizin di OJK Per 20 Desember 2019. https://www.ojk.go.id, diakses pada tanggal 05 Juni 2020 (09.25).

Republika.co.id. 2020. Fintech Syariah Bisa Ambil Peluang Social Crowdfunding. www.republika.co.id, diakses pada tanggal 05 Juni 2020 (08.35).

Dailysocial.id. 2020. Kekuatan Orang Baik, Kunci Tenarnya Platform “Social Crowdfunding”. www.dailysocial.id, diakses pada tanggal 07 Juni 2020 (11.25).

Badan Amil Zakat Nasional. 2020. Ziswaf dan Resesi Ekonomi di Era Pandemi. https://.baznas.go.id, diakses pada tanggal 06 Juni 2020 (12.20).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *