Pengaruhnya Investasi Sebelum dan Saat Pandemi

Oleh: HIMA Manajemen Research and Development

Sebelum adanya pandemi Covid-19, kondisi perekonomian global masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Walaupun sebelum Covid-19 ini, perekonomian global diselimuti dengan beberapa ancaman yaitu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, perang dagang, dsb. Namun, secara keseluruhan kondisi ekonomi global sebelum pandemi Covid-19 masih baik dan prospektif untuk melakukan investasi.

Tidak hanya perekonomian global yang masih positif, sebelum pandemi pun perekonomian nasional masih cukup baik dilihat dari IHSG pada awal Januari yang sempat menyentuh angka 6300. Hal ini adalah salah satu capaian yang baik dan menarik bagi Indonesia. Tidak hanya itu, prospek ekonomi nasional juga masih stabil, dimana pertumbuhan ekonomi berada pada level 5% s.d. 5,5%.

Lantas bagaimanakah kondisi pasar modal di saat pandemic? Kondisi pasar modal saat ini mengalami penurunan yang mana hal ini menyebabkan IHSG kita mengalami penurunan juga sampai di bawah level 4000. Penurunan ini tentunya juga tidak lepas dari sentimen investor yang melihat bahwa pemerintah Indonesia pada waktu itu belum serius dalam menangani Covid-19, sehingga ketika krisis kesehatan terjadi membuat para investor lebih memilih untuk menarik dananya dari pasar modal.  Hal tersebut tentunya membuat harga saham mengalami penurunan.

Ketika PSBB terjadi, banyak perusahaan-perusahaan yang kolaps. Perusahaan-perusahaan yang listing di pasar modal, yang berperan di bidang pariwisata semuanya negatif. Sehingga kalau kita lihat, tidak hanya aspek finansial perusahaan yang terpukul karena pandemi covid-19, namun juga aspek riil dan fundamental juga ikut terkena imbasnya. Sehingga wajar saja harga saham sempat jatuh atau bahkan sekarang harga saham performance nya tidak sebaik sebelum terjadinya pandemi. Meskipun banyak perusahaan-perusahaan yang tidak mampu bertahan di tengah kondisi saat ini, namun perusahaan telekomunikasi kinerjanya justru membaik pada masa pandemi ini.

Fluktuasi di pasar modal mempengaruhi perilaku investor dalam berinvestasi karena kita menganalisis pasar modal tidak hanya sekedar melihat angka saja, tetapi kita juga melihat dari aspek keuangan perilaku atau ekonomi perilaku seorang investor. Apabila investor tersebut kecenderungannya adalah investor yang menghindari risiko atau bahkan moderate, maka barangkali investor tersebut akan memilih untuk menarik dananya dari pasar modal dan kemudian menginvestasikan dananya pada skema atau instrumen-instrumen investasi yang save haven atau investasi yang memiliki tingkat risiko rendah, misalnya adalah emas. Apabila investor tersebut merupakan investor yang risk taker, mungkin dia akan tetap mempertahankan investasinya.

Rekomendasi investasi yang bagaimanakah yang harus kita cermati saat ini? Tidak ada yang mengetahui investasi apa yang paling tepat selain diri sendiri. Sebaiknya, kenali terlebih dulu profil risiko diri sendiri dalam berinvestasi. Apakah kita cenderung orang yang tergolong risk averse (menghindari risiko), moderat, atau risk taker (pengambil risiko). Dengan kondisi ketidakpastian yang cenderung tinggi saat ini, seorang risk averse akan memilih instrumen investasi dengan tingkat stabilitas yang baik seperti emas. Berinvestasi emas saat ini sudah dimudahkan, karena tidak harus membeli secara langsung, tetapi bisa dilakukan dengan menyicil di bank-bank syariah.

Pilihan lainnya adalah dengan berinvestasi pada suku ritel atau deposito dengan menggunakan akad mudhorobah. Sementara itu, seorang yang tergolong risk taker tentu akan memilih instrumen investasi yang berisiko, namun memberikan return yang tinggi. Di pasar saham, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, telekomunikasi, dan food and beverage menjadi primadona saat ini. Dengan menganalisa aspek fundamental berupa laporan keuangan perusahaan, akan tercermin apakah perusahaan tersebut layak untuk diinvestasikan atau tidak. Salah satu yang menjadi acuan adalah capital expenditure perusahaan, semakin tinggi nilainya, maka tinggi juga kemungkinan perusahaan untuk terus berkembang dan otomatis menghasilkan return yang besar bagi investornya.

Daftar Pustaka:

INDONESIA.GO.ID. (29 Juli 2020). Investasi Tetap Bergeliat di Tengah Pandemi. Diakses 23 September 2021, dari https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/investasi-tetap-bergeliat-di-tengah-pandemi

Mahendra, A. (23 September 2021). Tips dan Strategi Investasi saat Pandemi. Diakses 23 Septemeber 2021,  dari https://duniafintech.com/tips-dan-strategi-investasi/

Utara, K. D. (20 Mei 2021). Investasi di Kala Pandemi. Diakses 23 Septemeber 2021, dari https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-sumut/baca-artikel/13118/Investasi-di-Kala-Pandemi.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *