All England 2021, Murni Masalah Regulasi atau Upaya Diskriminatif?

Oleh : Aditya Chandra B & Naurah Salsabila

Sumber : twitter @INABadminton

       All England Open Badminton Championships atau yang biasa dikenal dengan All England merupakan turnamen paling bergengsi di dunia bulutangkis. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti masuknya turnamen ini ke kategori Super Series Premier dalam rentang tahun 2011-2017, kategori BWF Super 1000 mulai tahun 2018 hingga saat ini, dan juga jika melihat dari sisi sejarah All England itu sendiri. Ajang tersebut merupakan turnamen tertua, tidak hanya dalam bulutangkis dalam juga di dunia olahraga. Melansir laman resmi All England, turnamen tersebut kali pertama dihelat di Guildford pada tahun 1898, yang kemudian berlanjut pada 4 April 1899. Kala itu, nomor perlombaan baru ada tiga kategori, yakni ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Adapun sektor tunggal putra dan tunggal putri baru diikutsertakan pada 1900. Pada dua penyelenggaraan pertamanya, All England bernama “Badminton Association Tournament”. Kemudian, usai penyelenggaraan Piala Thomas pertama pada 1949 sampai 1977 di mana Federasi Bulutangkis Internasional meluncurkan kejuaraan resmi pertamanya. Sementara All England dianggap sebagai Kejuaraan Dunia Bulutangkis saat itu. Sejarah mencatat penyelenggaraan All England sempat terhenti dua kali dikarenakan Perang Dunia I (1915 – 1919) dan Perang Dunia II (1940 -1946). Sejak tahun 1984, All England resmi mengikat sponsor eksklusif dengan raksasa perlengkapan bulutangkis, Yonex, sehingga tak heran nama “Yonex” selalu terpampang pada nama turnamen ini dari tahun ke tahun, bahkan terpampang hingga ke logo turnamen.

Sumber : Liputan6.com

       Namun sayangnya pada tahun 2021 ini masyarakat Indonesia mendapat kabar menyedihkan. Bagaimana tidak tim bulutangkis Indonesia dipaksa mundur dengan alasan bahwa tim Indonesia berada dalam satu pesawat dengan satu penumpang yang dinyatakan positif Covid-19. Padahal tim Indonesia berangkat ke Birmingham, Inggris dengan persiapan yang sangat baik, bahkan berbekal vaksinasi Covid-19 serta hasil negatif swab test PCR.

       Kronologi kejadian ini bermula pada 12 Maret pukul 21.40 WIB, ketika Tim Indonesia yang beranggotakan 24 orang berangkat ke Birmingham, Inggris. Namun sebelum itu, tim Indonesia sempat transit di Istanbul, Turki. Setelah melalui perjalanan kurang lebih 20 jam, akhirnya tim Indonesia tiba di Birmingham. Setelah sampai, Anthony Ginting dkk kembali menjalani tes swab PCR dan diharuskan menunggu selama 12 jam hingga hasil tes keluar dengan karantina di kamar masing-masing. “Sekarang kami sedang menunggu hasilnya paling cepat 12 jam. Sampai hasil PCR keluar, kami tidak bisa keluar kamar. Jadi, saat ini harus menunggu di kamar masing-masing,” ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Rionny Mainaky, pada Sabtu (13/3/2021), dikutip dari Kompas.com (20/4/2021).

       Setelah 12 jam menunggu, skuad Merah Putih dinyatakan negatif Covid-19. Mereka lalu menggelar latihan di pusat kebugaran yang ada di Hotel Crowne Plaza Birmingham City Centre pada Senin (15/3/2021). Meski demikian, peserta All England termasuk tim bulu tangkis Indonesia masih harus menunggu kepastian kapan dimulainya turnamen level Super 1.000 itu. Sebab, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menunda jadwal pertandingan All England 2021 karena adanya keraguan terhadap sejumlah hasil tes Covid-19 yang dimiliki beberapa atlet dan pelatih dari Denmark, India dan Thailand. Situasi tersebut kemudian membuat pihak penyelenggara melakukan tes ulang terhadap peserta All England, baik atlet maupun tim ofisial, yang hasil tesnya diragukan. PBSI selaku induk bulu tangkis Indonesia menginformasikan bahwa pertandingan All England pada Rabu (17/3/2021) diundur menjadi pukul 14.00 waktu Birmingham. Namun, PBSI mengatakan bahwa kepastian terkait jadwal pertandingan juga harus menunggu hasil manager meeting yang akan digelar lebih dulu pada pukul 10.30 waktu setempat.

       Hasil manager meeting berbuah positif setelah pihak penyelenggara memastikan semua peserta yang terindikasi Covid-19 berdasarkan hasil swab test PCR kedua dinyatakan negatif. All England 2021 pun resmi bergulir di Utiliti Arena Birmingham, Rabu (17/3/2021) pukul 13.30 waktu setempat atau 20.30 WIB. Tiga wakil Indonesia pun berhasil memenangkan pertandingannya di babak pertama serta satu wakil mendapatkan kemenangan secara walk over sehingga memastikan tempat di babak 16 besar. Namun nasib malang menimpa tim Indonesia. Setelah pertandingan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan usai, tim Indonesia mendapatkan kabar bahwa seluruh pemain diharuskan mundur dari penyelenggaraan All England 2021. Hal ini disebabkan dalam penerbangan dari Istanbul menuju Birmingham, terdapat salah satu penumpang yang positif Covid-19, dan berdasarkan penelusuran dari National Health Service (NHS), otoritas kesehatan Inggris, tim Indonesia satu pesawat dengan penumpang tersebut. Menurut regulasi pemerintah Inggris, setiap orang yang satu pesawat dengan penumpang yang positif Covid-19 diharuskan menjalani karantina atau isolasi mandiri selama 10 hari. Pihak panitia All England dan BWF pun menjelaskan bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak karena masalah tersebut telah berada di bawah ranah pemerintahan Inggris

       Selain melalui pemberitahuan langsung tersebut, tim Indonesia juga menerima email dari pihak NHS. Namun yang anehnya, dari 24 orang tim Indonesia hanya 20 orang saja yang menerima email tersebut. Satu-satunya atlet yang tidak menerima email dari NHS tersebut adalah Mohammad Ahsan. Hal itu tentunya menjadi tanda tanya mengingat seluruh tim Indonesia berada dalam satu pesawat yang sama, namun mengapa ada yang tidak menerima email pemberitahuan tersebut. Setelah pemberitahuan yang mengharuskan seluruh perwakilan Indonesia untuk mengundurkan diri, pihak panitia pun menyuruh seluruh tim Indonesia yang berada di arena pertandingan untuk segera kembali ke hotel. Namun tim Indonesia tidak diberikan bis untuk mengantar mereka ke hotel, alhasil mereka pulang ke hotel dengan berjalan kaki. Bahkan sesampainya di hotel pun, tim Indonesia tidak diperkenankan untuk menaiki lift dengan alasan Covid-19, dan pihak hotel menyuruh mereka untuk menaiki tangga untuk ke kamar masing-masing. Hal ini membuat banyak pihak kecewa dan marah, bagaimana bisa atlet-atlet kebanggaan Indonesia tersebut diperlakukan tidak layak, hingga bahkan terkesan diskriminatif.

       Hal lain yang dipertanyakan pihak Indonesia adalah tidak diberitahukannya identitas penumpang yang positif Covid-19. Hal ini menjadi tanda tanya dan pihak Indonesia pun menuntut transparansi dari otoritas Inggris. Selain itu, mulanya atlet asal Turki, Neslihan Yigit, masih diperkenankan untuk mengikuti pertandingan All England dimana tim Indonesia sudah diberitahu untuk mengundurkan diri. Tentu hal itu menjadi polemik dan semakin menguatkan dugaan adanya diskriminasi kepada kontingen Indonesia. Namun setelah beberapa saat akhirnya nama Neslihan Yigit pun dinyatakan walk over dari kejuaraan bulutangkis tertua dunia tersebut. Hal yang menjadi sebab keterlambatan keputusan tersebut adalah tidak diteruskannya informasi dari NHS kepada BWF maupun pihak panitia.

       Sebenarnya, keputusan “dipaksa mundurnya” kontingen Indonesia dan juga atlet Turki dari All England 2021 tidak bisa diganggu gugat. Hal ini dikarenakan aturan yang dimiliki oleh otoritas kesehatan Inggris, NHS Test and Trace memiliki aturan bahwa setiap orang yang memiliki atau telah melakukan kontak erat dengan seseorang yang terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona, maka pihak NHS akan memberikan notifikasi untuk melakukan isolasi mandiri selama 10 hari. Dan kasus yang menimpa tim bulutangkis Indonesia bisa dibilang termasuk kasus kontak erat yang membutuhkan karantina 10 hari. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang menimpa kontingen Indonesia pada dasarnya adalah bagian dari penerapan protokol kesehatan yang berlaku di negara penyelenggara All England, yakni Inggris. Sehingga memang sudah seharusnya tim Indonesia mematuhi serta menjalani aturan tersebut, terlepas dari status negatif Covid-19 yang didapatkan saat swab test PCR yang dilakukan setibanya di Birmingham atau meskipun sudah dua kali menerima vaksin Covid-19.

Sumber : www.indosport.com

       Namun, langkah-langkah protes yang dikeluarkan tim Indonesia tidak sepenuhnya salah. Justru protes ini sebenarnya lebih ditujukan kepada BWF dan panitia All England selaku pihak penyelenggara yang seperti kurang profesional dalam menjalankan turnamen sekelas All England. Seharusnya pihak-pihak tersebut sudah paham akan aturan keprotokolan yang dimiliki oleh Inggris. Seharusnya pula BWF dan panitia belajar dari penyelenggaraan tiga turnamen awal tahun di Thailand yang menerapkan bubble system, yang mengharuskan tiap peserta berada di lingkungan yang sama untuk melakukan karantina selama 14 hari. Andai saja ini diterapkan, maka jikalau tim Indonesia ataupun negara lain mengalama kejadian yang sama seperti yang terjadi di All England, maka tim yang mengalami itupun tetap dapat bertanding karena telah melalui masa karantina yang cukup panjang.

       Selain itu, transparansi juga diperlukan untuk memastikan bahwa apa yang terjadi Inggris itu murni bagian dari penerapan protokol kesehatan, bukan masalah sentimen belaka. Menjaga kerahasiaan orang yang terkonfirmasi positif corona memang hal yang wajar, namun informasi yang jelas semestinya tetap diberikan agar pihak PBSI dapat memahami dan menerima keputusan penarikan mundur tim Indonesia. Lalu kejadian-kejadian seperti tim Indonesia yang harus jalan kaki ke hotel dan hanya diperbolehkan naik tangga setibanya di hotel pun perlu penjelasan lebih lanjut, mengapa hal itu dapat terjadi. Karena kejadian seperti itu sangat mengherankan jika terjadi dengan alasan menghindari virus Covid-19, sedangkan hasil swab test PCR tim Indonesia saja negatif, di luar konteks kontak erat yang terjadi.

       Kompleksnya permasalahan yang terjadi tidak hanya membuat atlet-atlet Indonesia kecewa, tidak hanya membuat hubungan PBSI dengan BWF menjadi goyang, namun hubungan Indonesia dengan Inggris pun bisa jadi terganggu dengan adanya peristiwa ini. Protes-protes yang dilayangkan lintas pihak mulai dari PBSI, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London, Kemenpora, bahkan hingga presiden melalui Kemenlu yang semata-mata hanya untuk mempertanyakan sikap BWF dan panitia penyelenggara All England bisa jadi malah berdampak buruk terhadap keberlangsungan hubungan diplomatik dengan pemerintah Inggris, apalagi dengan tuduhan adanya praktik diskriminasi yang menimpa tim Indonesia dikhawatirkan hanya akan membuat pemerintah Inggris merasa tersinggung karena merasa tidak melakukan hal tersebut. Oleh sebab itu, transparansi dan keterbukaan menjadi poin penting dalam menyikapi kasus tersebut. 

Daftar Pustaka

liputan6.com

badmintonindonesia.org

www.indosport.com

https://www.kompas.com/badminton/read/2021/03/18/08500098/sejarah-all-england-open-mengapa-begitu-prestisius-bagi-indonesia?page=all

https://www.kompas.com/badminton/read/2021/03/18/06525648/kronologi-tim-bulu-tangkis-indonesia-dipaksa-mundur-dari-all-england?page=all

https://bolastylo.bolasport.com/read/172613505/review-all-england-2021-kronologi-singkat-pengusiran-tim-indonesia?page=all

https://tirto.id/respons-kemenpora-usai-timnas-ri-dipaksa-mundur-dari-all-england-gbgJ

https://tekno.tempo.co/read/1443621/geger-di-all-england-2021-ini-aturan-nhs-soal-isolasi-mandiri-covid-19

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *