KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) PERTAMAX DI INDONESIA; PERBANDINGANNYA DENGAN NEGERI JIRAN MALAYSIA

Oleh : Maulhika Putri Winaryanti

(Staff Departemen Edukasi BEMP Ekonomi dan Administrasi)

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang sangat vital. BBM punya peran penting untuk menggerakkan perekonomian. BBM mengambil peran di hampir semua aktivitas ekonomi di Indonesia. Kebutuhan BBM membumbung tinggi seiring dengan pertumbuhan industri, dan transportasi. Indonesia bergabung menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada tahun 1962 di mana saat itu Indonesia memiliki surplus minyak yang cukup besar. Dilansir dari buku 2020 Indonesia dalam Bencana Krisis Minyak Nasional oleh Pria Indirasardjana, pada 1965 produksi minyak Indonesia mencapai 486.000 barel per hari sedangkan konsumsinya hanya 25 persen. Setelah mencapai puncak kejayaan pengekspor minyak, Pemanfaatan minyak bumi yang besar-besaran tersebut lambat laun mengurangi produksi minyak Indonesia. Ditambah kegiatan eksplorasi sumber minyak baru menjadi jarang dilakukan. Di sisi lain kebutuhan konsumsi dalam negeri akan minyak terus meningkat sehingga membuat produksi minyak tidak ada yang surplus untuk diekspor.

Hingga puncaknya pada tahun 2005 menjadi hanya 387 juta barel dan pada 2007 produksi minyak ini selalu berada di bawah 1 juta barel per hari. Indonesia akhirnya tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak. Pada 2008 Indonesia memutuskan untuk dengan sukarela keluar dari keanggotaan OPEC.  

 Kemudian Indonesia memutuskan untuk kembali aktif sebagai anggota OPEC pada awal 2016 karena membutuhkan informasi naik-turunnya harga dan kondisi stok di setiap negara anggota OPEC. Namun pada akhir 2016, pemerintah memutuskan untuk membekukan kembali keanggotaannya di OPEC. Hal ini dikarenakan pemerintah ingin memperbaiki struktur APBN.

BBM sangat penting dalam kehidupan masyarakat. BBM merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat sebagai rumah tangga maupun sebagai pengusaha, demikian juga BBM sangat penting bagi sektor industri maupun transportasi. Kondisi tersebut dapat tercermin dari peranan BBM sebagai faktor penting dalam menentukan perubahan harga-harga bahan pokok atau inflasi.

Namun, terhitung sejak 1 April 2022  PT Pertamina resmi menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Research Octane Number (RON) 92 atau Pertamax menjadi Rp 12.500-Rp 13.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 9.000-Rp 9.400 per liter. Pertamina menaikkan harga tersebut karena kenaikan harga pertamax ini dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Selain itu juga Kenaikan tersebut  disebabkan oleh harga minyak dunia yang terus mengalami lonjakan sepanjang tahun ini. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengungkapkan, penyesuaian harga BBM merupakan jalan satu-satunya untuk mengatasi inflasi serta pembengkakan APBN akibat subsidi. Selain itu Erick Thohir sebagai Menteri BUMN juga mengungkapkan, pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menetapkan BBM RON 90 alias Pertalite sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP). Dengan demikian Pertalite dipastikan menjadi jenis BBM yang mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Budi Gunawan juga memaparkan, pemerintah telah mempertimbangkan berbagai hal sebelum menaikkan harga Pertamax. Pertama, konsumen pertamax adalah masyarakat dengan status sosial ekonomi kelas menengah dan kelas atas, bukan masyarakat kelas bawah. Kedua, kebijakan menaikkan harga BBM nonsubsidi kali ini sudah memperhitungkan faktor daya beli konsumen, di mana, konsumen kelas menengah dan kelas atas memiliki daya beli yang lebih tinggi dibandingkan konsumen kelas bawah. Artinya, meskipun pemerintah menaikkan harga Pertamax, akan tetapi kenaikan harganya masih ditetapkan di bawah harga keekonomiannya. Sehingga kenaikan harga BBM tetap memperhitungkan kemampuan daya beli masyarakat, meskipun terhadap kelas menengah dan atas yang sebenarnya memiliki daya beli cukup kuat.

“Pemerintah sudah putuskan Pertalite jadikan subsidi, Pertamax tidak. Jadi kalau Pertamax naik ya mohon maaf,” kata Erick saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum Universitas Hasanuddin, Rabu (30/3).

Jika di Indonesia BBM tengah jadi polemik nasional, tak demikian halnya di Malaysia. Warga negara Negeri Jiran itu selama ini justru menikmati harga BBM yang relatif sangat murah dibandingkan para tetangganya di Association Southeast Asian Nations (ASEAN). harga bensin terbaru per April 2022 dengan RON 95 dijual di Malaysia seharga RM 2,05 atau jika dirupiahkan setara dengan Rp 6.900 per liter (kurs Rp 3.400). Perlu diketahui, pemerintah Malaysia hanya memberikan subsidi untuk bensin RON 95. Sementara untuk RON 97 tidak disubsidi sehingga banderolnya mengikuti harga pasar.

Faktor lain yang harus diperhatikan, selain menikmati harga BBM lebih murah, Malaysia juga memiliki Gross Domestic Product (GDP) per kapita jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Pada tahun 2020, GDP per kapita Indonesia adalah sebesar 3.869 dollar AS atau setara dengan Rp 55,57 juta. Sementara GDP per kapita Malaysia tiga kali lipatnya, yakni 10.401 dollar AS atau setara Rp 149,40 juta. Laporan Picodi yang dikutip dari The Malaysian Reserve, juga menyebutkan bahwa Malaysia berada di peringkat kelima dalam hal rasio harga bensin paling terjangkau dengan gaji rata-rata setelah mengesampingkan negara-negara Timur Tengah.

Harga BBM di Malaysia yang relatif sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain tak lepas dari kebijakan subsidi pemerintah. Seperti halnya Indonesia, pemerintah Malaysia juga memberikan subsidi pada produk BBM-nya. Namun bedanya, Indonesia memberikan subsidi pada produk BBM dengan kualitas lebih rendah seperti Solar subsidi dan memberikan kompensasi pada bensin dengan nilai oktan (RON) 88 alias Premium. Sedangkan Malaysia, langsung memberikan subsidi pada produk bensin dengan kualitas dan nilai oktan lebih tinggi, yakni RON 95, yang secara kualitas oktannya berada di atas Petamax yang memiliki RON 92.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kenaikan BBM di Indonesia jenis bensin pertamax dengan nilai oktan (RON 92) diakibatkan karena tidak ada pemberian subsidi oleh pemerintah, akan tetapi pemberian BBM bersubsidi oleh pemerintah ditujukan kepada jenis bensin premium dengan nilai oktan (RON) 88. Sedangkan untuk Malaysia pemberian BBM bersubsidi diberikan kepada jenis bensin dengan nilai oktan (RON 95), mengapa pemberian BBM bersubsidi Malaysia nilai oktan nya lebih tinggi dari pada Indonesia yang nilai oktan nya (RON 88)? Karena di Malaysia BBM oktan terendah adalah RON 95 atau kala dulu setara dengan Pertamax Plus. Sekadar informasi BBM RON 95 ini menggantikan RON 92 di Malaysia sejak September 2009, sehingga saat ini ada dua pilihan BBM yakni RON 95 dan RON 97.

DAFTAR PUSTAKA

Asmarini, W. (2022). Mengapa Harga BBM di Malaysia Bisa Sangat Murah?. [Online]. Retrieved from https://www.cnbcindonesia.com/news/20220407113111-4-329617/mengapa-harga-bbm-di-malaysia-bisa-sangat-murah

Endang, W. (2012). Dampak Kenaikan Harga Minyak Terhadap Kondisi Ekonomi Indonesia. [Online]. Retrieved from wealthindonesia: http://www.wealthindonesia.com/wealth-growth-and-accumulation/dampak-kenaikan-harga-minyak-terhadap-kondisi-ekonomi-indo.html.

Martha, F. P. (2022). Harga Pertamax Naik Jelang Mudik Lebaran, Ini Kata Badan Intelijen. [Online]. Retrieved from https://ekonomi.bisnis.com/read/20220409/44/1520711/harga-pertamax-naik-jelang-mudik-lebaran-ini-kata-badan-intelijen

Laoli, N. (2022, Maret 31). Kontan.co.id. Retrieved April 19, 2002, from nasional.kontan.co.id: https://nasional.kontan.co.id/news/resmi-harga-pertamax-naik-mulai-1-april-2022-di-16-provinsi-cek-harganya

detikoto, T. d. (2022, Maret 31). detikoto. Retrieved April 20, 2022, from oto.detik.com: https://oto.detik.com/berita/d-6009875/di-malaysia-bbm-terendah-punya-oktan-95-harganya-lebih-murah-dari-pertamax

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *